Sabtu, 03 Oktober 2015

TUGAS CISCO CCNA 1 CHAPTER 4

Tugas CISCO CCNA Chapter 4:
1.      Jelaskan cara kerja dan fungsi dari layer 1 dan layer 2 pada OSI layer!
2.      Jelaskan karakteristik dan sifat-sifat teknologi:
a.       Wireless
b.      Kabel Tembaga
c.       Fiber Optic
3.      Jelaskan kelebihan dan kekurangan dari:
a.       Wireless
b.      Kabel Tembaga
c.       Fiber Optic
4.      Jelaskan jenis-jenis dan macam-macam:
a.       Wireless
b.      Kabel Tembaga
c.       Fiber Optic
5.      Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis konektor Fiber Optic?
6.      Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis standar dari wireless wifi IEEE 802.11?
7.      Apa sajakah kelebihan Wimax dibandingkan Wireless Wifi IEEE 802.11?
8.      Apa yang dimaksud dengan Half Duplex dan Full Duplex serta jelaskan perbedaannya?
9.      Sebutkan dan jelaskan macam-macam topologi LAN?

Jawaban

1.      Fungsi dan Cara Kerja dari Layer 1 dan Layer 2
a.      Layer 1
Disebut juga Physical layer berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan (seperti halnya Ethernet), topologi jaringan dan pengabelan. Selain itu, level ini juga mendefinisikan bagaimana Network Interface Card (NIC) dapat berinteraksi dengan media kabel atau radio.
b.      Layer 2
Disebut juga Data-link layer berfungsi untuk menentukan bagaimana bit-bit data dikelompokan menjadi format yang disebut sebagau frame.Selain itu, pada level ini terjadi koreksi kesalahan, flow control, pengalamatan perangkat keras (seperti halnya Media Access Control Address (MAC Address), dan menentukan bagaimana perangkat-perangkat jaringan seperti hub, bridge, repeater, dan switch layer 2 beroperasi. Spesifikasi IEEE 802, membagi lever ini menjadi 2 level anak, yaitu lapisan Logical Link Control (LLC) dan lapisan Media Access Control (MAC).


2.      Karakteristik dan Sifat-sifat Teknologi:
a.      Wireless
Jaringan Wireless mempunyai karakteristik yang berbeda dengan jaringan pasa umumnya. Sifat flesibilitas wireless menjadikan teknologi wireless sebagai salah satu teknologi utama yang diaplikasikan dalam jaringan telekomunikasi. Komunikasi lokal wireless memiliki perkembangan dan tumbuh sebagai sektor yang sangat penting dalam industri telekomunikasi. Pada Jaringan Wireless/Wifi faktor yang mempengaruhi kinerja dan kehandalan dari jaringan Wireless. Karena media transmisinya menggunakan sinyal radio (RF) maka tentunya banyak faktor alam juga yang mempengaruhi.
Berikut sifat-sifat gelombang radio pada wireless:
·    Panjang Gelombang (Wavelength)
Panjang gelombang adalah jarak antara 1 ujung puncak gelombang dengan lainnya secara horizontal. Sinyal ini awalnya di mulai sebagai sinyal AC yang di generate oleh transmitter/pemancar didalam sebuah Access Point (AP) dan dikirim ke antena, dimana diradiasikan sebagai gelombang sinus. Selama proses ini, arus mengubah medan elektromagnetik disekitar antenna, sehingga antenna mengirim sinyal elektrik dan magnetik.
·         Frekuensi (Hz)
Frekuensi menetukan seberapa sering signal terlihat/muncul. Frekuensi biasa di ukur dalam besaran detik, direferensikan sebagai cycle.
·         Amplitudo
Jarak Vertikal antara satu puncak gelombang dengan gelombang lainnya adalah amplitudo. Amplitudo adalah jumlah energy yang di berikan dalam sebuah signal.
·         Daya Pemancar
Semua radio akan akan mempunyai daya pancar tertentu. Daya pancar ini menentukan energi yang ada sepanjang lebar bandwidth tertentu.
·         Sensitivitas Penerima Radio
Rx adalah kepanjangan dari “Receive” atau penerima. Semua radio memiliki titik minimal, dimana jika sinyal yang diterima lebih rendah dari titik minimal tersebut maka data yang dikirim tidak dapat diterima.
·         Pengutan Antenna
Pada system radio/wireless, kita menggunakan antenna untuk mengkonversikan gelombang listrik menjadi gelombang elektromagnetik yang akan merambat di udara. Penguatan antenna adalah besarnya penguatan energi yang dapat dilakukan oleh antenna pada saat memancarkan dan menerima sinyal.
·         Redaman
Dalam sebuah sistem komunikasi radio ada banyak hal yang memungkinkan terjadinya redaman pada kekuatan sinyal. Beberapa diantaranya adalah kabel, konektor, anti-petir, udara (free space), maupun berbagai halangan lain seperti pohon. Semua ini akan menyebabkan turunnya kemampuan jika tidak di install dengan baik. Dalam system komunikasi “low power” seperti WiFi ysng rata-rata hanya mempunyai daya pancar 30-100mW saja, maka setiap dB yang dapat kita hemat akan sangat penting artinya.
·         Radiasi Daya Pancar
Data yang dipancarkan dari antenna dapat di ukur dengan dua 2 cara, yaitu:
Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) dalam dBm
= daya di input antenna [dBm] + oenguatan antenna [dBi]
Effective Radiated Power (ERP) dalam dBm
= daya input antenna [dBm] + penguatan antenna [dBd]
Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) biasanya kita gunakan. Kita biasanya membatasi EIRP sekitar 36dBm. Di Indonesia , kita mengadopsi batasan EIRP yang berbeda bagi sambungan, Point-to-Point (P2P) dan sambungan Point-to-Multi-Point (P2MP), menjadi 36 dBm dan 30 dBm.
·         Propagasi di Udara (Free Space)
Pada saat sinyal meninggalkan antenna, sinyal akan berprogasi atau lepas ke udara. Antenna yang akan gunakan akan menentukan bagaimana propagasi akan terjadi. Pada frekuensi 2.4 GHz sangat penting sekali untuk menentukan agar jalur antara dua antenna ini tidak ada penghalang. Kita kemungkinan besar akan melihat adanya degradasi dari sinyal yang berpropagasi di udara jika ada hambatan dijalur. Pohonan, bangunan, tiang PLN, tower, gunung, semua merupakan contoh dari penghalang. Tetapi sebagian besar redaman dalam system wireless adalah redaman karena sinyal harus merambat di udara.
·         Line of Sight
Memperoleh Line of Sight (LOS) yang baik antara antenna pengirim dan antenna penerima sangat penting sekali baik untuk instalasi Point to Point dan Ponit to Multipoint. Jenis LOS yang biasanya harus di perhatikan dalam instalasi, yaitu:
ü Optical LOS, berhubungan dengan kemampuan masing-masing untuk melihat.
ü Radio LOS, berhubungan dengan kemampuan penerima radio untuk “melihat” sinyal dari pemancar radio.

b.      Kabel Tembaga
Kabel tembaga adalah kabel dengan penghantar tembaga dan biasanyanya dipakai dalam instalasi tenaga listrik dan alat-alat control, sehingga biasanya disebut kabel instalasi.
Ada dua jenis kabel tembaga berdasarkan bahan penghatar, fungsi dan susunan isolasinya
Ciri-ciri kabel tembaga berdasar bahan penghantarnya:
·    Bentuknya padat dan berurat banyak
·    Bahan dari alumunium murni dan campuran
Ciri-ciri kabel tembaga fungsi dan susunan isolasinya:
·      Untuk keperluan instalasi listrik rumah tinggal, instalasi pesawat elektronika, panel tenaga dan distribusi.
·      Menggunakan isolasi PVC dan XLPE.
Ada tiga hal sifat pokok dari kabel yaitu:
1.      Konduktor: Merupakan bahan untuk menghantarkan arus listrik.
2.      Isolator: Merupakan bahan dielektrik untuk menisolasi dari penghantar yang satu dengan yang lain dan juga terhadap lingkungannya.
3.      Pelindung luar: Merupakan bahan pelindung kabel dari kerusakan mekanis, pengaruh bahan-bahan kimia electrolysis, api atau pengaruh-pengaruh luar lainnya yang merugikan

c.       Fiber Optic
Sistem serat optic memiliki banyak keuntungan dibandingkan sistem komunikasi berbasis logam. Keuntungan ini termasuk gangguan, redaman, dan karakteristik bandwidth. Selanjutnya, penampang relatif lebih kecil dari kabel serat optic memungkinkan ruang untuk pertumbuhan substansial dari kapasitas dalam saluran yang ada. Karakteristik serat optic dapat diklsifikasikan sebagai linear dan nonlinear. Karakteristik nonlinear dipengaruhi oleh parameter, seperti bit rate, channel spacing, dan tingkat daya. Karaktristik linear meliputi redaman, disperse kromatik (CD), dispersi mode polarisasi (PMD), dan optic rasio (OSNR) signal-to-noise.

3.    Kelebihan dan Kekurangan dari:
a.    Wireless
Kelebihan Wireless:
1.        Biaya pemeliharaan murah.
2.        Pembangunan jaringan cepat.
3.        Mudah dikembangkan.
4.        Mudah dan murah untuk direlokasi.
5.        Infrastruktur berdimensi kecil.
6.        Berbagai sumber file dapat dipindah-pindahkan dengan mudah tanpa menggunakna kabel.
7.        Muah untuk di-setup dan handal sehingga cocok untuk pemakaian di kantor atau di rumah.



Kekurangan Wireless:
1.        Kualitas sinyak akan dipengaruhi oleh provokasi udara, artinya kualitas koneksi saat cuaca bagus akan berbeda dengan kualitas saat cuaca buruk (jika digunakan diluar gedung) dan akan dipengaruhi oleh batas-batas dinding gedung.
2.        Mahal dalam investasi jika dibanding dengan menggunakan kabel.
3.        Kemungkinan penyadapan koneksi lebih besar terjadi dibanding menggunakan media kabel.
4.        Biaya peralatan lebih mahal.
5.        Keamanan data rentan.
6.        Interferensi gelombang radio.
7.        Delay (kelambatan) yang sangat besar.
8.        Produk dari produsen yang berbeda kadang-kadang tidak kompatibel.

b.   Kabel Tembaga
Kelebihan dari Kabel Tembaga:
1.        Harga murah
2.        Instalasi mudah
3.        Mudah didapat
4.        Flexible
5.        Menggunakan satu medium untuk semua
Kekurangan dari Kabel Tembaga:
1.        Rentan terhadap gangguan frekuensi listrik dan radio.
2.        Tidak dapat mentransmisikan sinyal cahaya.
3.        Kapasitas bandwithnya kecil

c.    Fiber Optic
Kelebihan dari Fiber Optic:
1.        Bandwith lebar
2.        Redaman kecil
3.        Kebal terhadap induksi
4.        Keamanan rahasia informasi lebih baik
5.        Aman dari bahaya listrik
6.        Penambahan kanal/kapasitas terpasang lebih mudah
7.        Tidak ada cakap silang (Crosstalk)
8.        Tidak berkarat
9.        Lebih ekonomis
10.    Tanah temperatur tinggi
11.    Konsumsi daya rendah

Kekurangan dari Fiber Optic:
1.        Tidak menyalurkan energi listrik.
2.        Pda sistem repeater, transmistter dan receiver perlu pengubahan energi listrik ke optic dan sebaliknya.
3.        Perangkat sambung relative lebih sulit, karena terbuat dari gelas silica, memerlukan penanganan yang lebih hati-hati.
4.        Perangkat terminasi lebih mahal.
5.        Perbaikan lebih sulit.

4.    Jenis-jenis dan macam-macam:
a.      Wireless
1.      WiFi 802.11g: Merupakan spectrum dasar yang paling banyak digunakan untuk menangani permasalahan seputar konektivitas saat ini, teknologi ini mampu melakukan transfer transfer data hingga kecepatan maksimal 54Mbps, atau sekitar 6.75 MBps.
2.      WiFi 802.11n: merupakan teknologi WiFi yang paling cepat, karena mampu menangani transfer data hingga kecepatan maksimal 300 Mbps.
3.      Bluetooth Standar: perangkat yang paling sering kita temui gi gadget seperti Handphone maupun perangkat elektronik lainnya, memiliki kecepatan transfer maksimal hanya 3Mbps.
4.      Bluetooth 3.0: generasi penerus dari Bluetooth standar diatas, teknologi ini memungkinkan transfer data hingga 24Mbps.
5.      Wigig: hostpot super cepat, memiliki kecepatan sepuluh kali lebuh besar, yakni Gigabit per detik.
6.      Wireless USB: memiliki kecepatan transfer hingga 110 Mbps dalan radius 10 meter, dan pada radius 3 meter, kecepatannya meningkat hingga 4 kali lipat, yaitu 480Mbps.
7.      Wireless HD: Teknologi ini khusus bagi pencinta film atau penggemar video berdefinisi tinggi (High Definition), pada jarak 10 meter, kecepatan transfernya hingga 4 Gbps, namun menurut teori kecepatan transfernya justru bisa menembus 25Gbps.
8.      Zigbee: Teknologi standar wireless yang dikatakan paling hemat daya (listrik) karena hanya mampu menghandle transfer data dengan kapasitas kecil saja, namun teknologi ini memiliki keunggulan yaitu dapat menyampaikan respon suatu instruksi dengan cepat, contohnya pada remote control.



b.      Kabel Tembaga
Salah satu contoh kabel tembaga terbagi atas UTP (Unshielded Twisted Pair) dan STP (Shielded Twisted Pair). Perbedaan dari keduanya adalah adanya pelindung dan tidak adanya pelindung pada bagian inti konduktornya. Kabel UTP terdiri dari 4 pasang kabel dengan jalinan yang berbeda-beda tiap incinya. Semakin rapat jalinan tersebut, tingkat transmisi dan harganya semakin tinggi. Kabel UTP ini menggunakan konektor RJ-45 yang biasa digunakan untuk Ethernet, ISDN, atau sambungan telepon. Dengan kabel UTP, kita dapat mengirimkan data lebih banyak dibandingkan LAN.
Sedangkan kabel STP terdiri dari sepasang kabel yang dilindungi oleh timah, dan masing-masing kabel tersebut dibungkus oleh pelindung.

c.       Fiber Optic
Jenis-jenis Fiber Optic:
1.    Step index multimode
Indeks bias core konstan ukuran Cote besar (50 mikro meter) dan dilapisi cladding yang sangat tipis. Penyambungan kabel ini mudah karena memiliki core yang besar terjadi dispresi. Hanya digunakan untuk jarak pendek dan transmisi data bit rate rendah.
2.    Graded index multimode
Cahaya merambat karena difraksi yang terjadi pada core sehingga rambatan cahaya sejajar dengan sumbu serat. Dipresi minimum hanya lebih mahal dari serat optic SI karena proses pembuatannya lebih sulit.
3.    Step index singlemode
Serat optic SI monomode memiliki diameter core yang sangat kecil dibandingkan ukuran claddingnya. Cahaya hanya merambat dalam satu mode saja yaitu sejajar dengan sumbu serat optic. Digunakan untuk transmisi data dengan bit rate tinggi.

5.    Jenis-jenis konektor Fiber Optic:
Pada kabel serat optic, sambungan ujung terminal atau disebuat juga konektor, biasanya memiliki tipe standar seperti berikut:
1.    FC (Fiber Connector): Digunakan untuk kabel single mode dengan akurasi yang sangat tinggi dalam menghubungkan kabel dengan transmitter maupun receiver. Konektor ini menggunakan sistem drat ulit dengan posisi yang dpaat diatur , sehingga ketika dipasangkan ke perangkat lain, akurasinya tidak akan mudah berubah.
2.    SC (Subsciber Connector): Digunakan untuk kabel single mode, denga sistem dicabut-pasang. Konektor ini tidak terlalu mahal, simple, dan dapat diatur secara manual serta akurasinya baik bila dipasangkan ke perangkat lain.
3.    LC konektor: Menyediakan desain full-bukti dan ukuran kecil yang sempurna untuk aplikasi high-destiny. Tersedia dalam simplex atau duplex versi. Konektor LC disediakan denganzirkonia ferrule 1.25 mm. LC juga menggabungkan mekanisme menempel unik memberikan stabilitas di gunung rak sistem.
4.    ST (Straight Tip): Bentuknya seperti bayonet berkunci hamper mirip dengan konektor BNC. Sangat umum digunakan baik untuk kabel multi mode maupun single mode. Sangat mudah digunakan baik dipasang maupun dicabut.
5.    Biconic: Salah satu konektor yang kali pertama muncul dalam komunikasi fiber optic. Saat ini sangat jarang digunakan.
6.    D4: Konektor ini hampir mirip dengan FC hanya berbeda ukurannya saja. Prbedaannya sekitar 2mm pada bagian ferrule-nya.
7.    SMA: Konektor ini merupakan pendahulu dari konektor ST yang sama-sama menggunakan penutup dan pelindung. Namun seiring dengan berkembangannya ST konektor, maka konektor ini sudah tidak berkembang lagi penggunaanya.

6.    Jenis-jenis standar dari wireless wifi IEEE 802.11
1.    Standarisasi IEEE 802.11a
Standarisasi IEEE 802.11a bekerja pada frekuensi 5GHz mengikuti standard dari UNII (Unlicensed National Information Infrastructure). Teknologi IEEE 802.11a tidak menggunakan teknologi spread-spectrum melainkan menggunakan standar frequency division multiplexing (FDM). Mampu mentransfer data hingga 54 Mbps.
2.    Standarisasi IEEE 802.11b
Standarisasi IEEE 802.11b saat ini paling banyak digunakan satu. Menawarkan thoroughput maksimum maksimum dari Mbps (6 Mbps dalam praktek) dan jangkauan hingga 300 meter dilingkungan terbuka. Ia menggunakan rentang frekuensi 2,4 GHz, dengan 3 saluran radio yang tersedia. Transmisi data 5,4 hingga 11 Mbps.
3.    Standarisasi IEEE 802.11c
Standar 802.11c (disebut WiFi), yang menjembatani standar 802.11c tidak menarik bagi masyarakat umum. Hanya merupakan versi diubah 802.11d standar tang memungkinkan 802.11d jembatan dengan 802.11 perangkat yang kompatibel (pada tingkat data link).
4.    Standarisasi IEEE 802.11d
Standar 802.11d adalah suplemen untuk standar 802.11 yang dimaksudkan untuk memungkinkan pengunaan internasional 802.11 lokal jaringan. Ini memungkinkan perangkat yang berbeda informasi perdagangan pada rentang frekuensi tergantung pada apa yang diperbolehkan dinegara dimana perangkat dari.
5.    Standarisasi IEEE 802.11e
Standar 802.11e yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas layanan pada tingkat data link layer. Tujuan dtandar ini adalah untuk menentukan persyaratan paket yang berbeda dalam hal bandwith dan keterlambatan transmisi sehingga memungkinkan transmisi yang lebih baik suara dan video.
6.    Standarisasi IEEE 802.11f
Standar 802.11f adalah rekomendasi untuk jalur akses vendor produk yang memungkinkan untuk menjadi lebih kompatibel. Ia menggunakan Inter-Access Point Protocol Roaming, yang memungkinkan pengguna roaming transparan akses beralih dari satu titik ke titik lain sambil bergerak, tidak peduli apa merek jalur akses yang digunakan pada infrastruktur jaringan. Kemampuan ini juga hanya disebut roaming.
7.    Standarisasi IEEE 802.11g
Standar 802.11g menawarkan bandwidth yang tinggi (54 Mbps throughput maksimum, 30 Mbps dalam praktek) pada rentang frekuensi 2,4 GHz. Standar 802.11g mundur-kompatibel dengan standar 802.11b, yang berarti bahwa perangkat yang mendukung standar 802.11g juga dapat bekerja dengan 802.11b.

7.    kelebihan Wimax dibandingkan Wireless Wifi IEEE 802.11
Pada dasarnya WiFi dan WiMax tidak memiliki banyak perbedaan, akan tetapi WiMax memiliki beberapa keunggulan disbanding WiFi. Berikut beberapa perbedaan WiFi dan WiMax:
1.    Coverage Area
Wifi dapat melingkupi coverage area beberapa meter saja, yang hanya dapat mencukupi akses internet hanya pada satu gedung. Lain halnya dengan WiMax, yang memiliki cakupan converage area lebih luas, yaitu sekitar 50 km.
2.    Fitur
Wimax memiliki lebih banyak fitur dibandingkan WiFi.
3.    Frekuensi
WiFi menggunkaan frekuensi 5,8GHz, sedangkan WiMax selain menggunakan frekuensi 5,8GHz, juga menggunakan frekuensi 2,5GHz dan 3,5GHz.
4.    LoS (Line of Sight)
Standar WiMax memberikan koneksi tanpa memerlukan Los, sedangkan WiFi tidak.
Bila dilihat dari penjelasan diatas, maka secara garis besar keduanya dapat diintegrasikan dan overlay (saling melapisi). Kalau integrasi berarti antara WiMax dan WiFi akan saling mendukung. Keduanya akan saling bersinergi untuk melayani pelanggan yang lebih besar dan lebih banyak. Namun bila sifatnya overlay atau overlap dari sisi converge, maka dapat difungsikan saling mendukung (bila satu operator) dan juga akan saling berlawanan bila berbeda oprator.

8.    Pengertian Half Duplex dan Full Duplex serta perbedaannya
Full-duplex
Dalam komunikasi full-duplex, dua pihak yang saling berkomunikasi akan mengirimkan informasi dan menerima informasi dalam waktu yang sama, dan umumnya membutuhkan dua jalur komunikasi.
Komunikasi full-duplex juga dapat diraih dengan menggunakan teknik multiplexing, di mana sinyal yang berjalan dengan arah yang berbeda akan diletakkan pada slot waktu (time slot) yang berbeda. Kelemahan teknik ini adalah memotong kecepatan transmisi yang mungkin menjadi setengahnya.

Half-duplex
Half-duplex merupakan sebuah mode komunikasi di mana data dapat ditransmisikan atau diterima secara dua arah tapi tidak dapat secara bersama-sama. Contoh paling sederhana adalah walkie-talkie, di mana dua penggunanya harus menekan sebuah tombol untuk berbicara dan melepaskan tombol tersebut untuk mendengar. Ketika dua orang menggunakan walkie-talkie untuk berkomunikasi pada satu waktu tertentu, hanya salah satu diantara mereka yang dapat berbicara sementara pihal lainnya mendengar. Jika kedua-duanya mencoba untuk berbisara secara serentak, kondisi “collision” (tabrakan) pun terjadi dan kedua pengguna walkie-talkie tersebut tidak dapat saling mendengarkan apa yang keduanya kirimkan.

Perbedaanya adalah dalam komunikasi Full-duplex dapat berkomunikasi dengan mengirim atau menerima informasi dalam waktu yang sama, sedangkan Half-duplex tidak bisa berkomunikasi dalam waktu yang sama karena harus bergantian, kalau keduanya mencoba berkomunikasi dalam waktu yang bersamaan akan terjadi collision dan tidak bisa berkomunikasi.

9.    Macam-macam Topologi LAN:

1.        Topologi Ring



Pada topologi ring setiap komputer dihubungkan dengan komputer lain dan seterusnya sampai kembali lagi ke komputer pertama, dan membentuk lingkaran sehingga disebut ring, topologi ini berkomunikasi menggunakan data token untuk mengontrol hak akses komputer untuk menerima data, misalnya komputer 1 akan mengirim file ke komputer 4, maka data akan melewati komputer 2 dan 3 sampai di terima oleh komputer 4, jadi sebuah komputer akan melanjutkan pengiriman data jika yang dituju bukan IP Address dia.

2.        Topologi Bus



Topologi jaringan komputer bus tersusun rapi seperti antrian dan menggunakan Cuma satu kabel coaxial dan setiap komputer terhubung ke kabel menggunakan konektor BNC, dan kedua ujung dari kabel coaxial harus diakhiri oleh terminator.


3.        Topologi Star







Topologi ini membentuk seperti bintang karna semua komputer dihubungkan ke sebuah hub atau switch dengan kabel UTP, sehingga hub/switch lah pusat dari jaringan dan bertugas untuk mengontrol lalu lintas data, jadi jika komputer 1 ingin mengirim data ke komputer 4, data akan dikirim ke switch dan langsung dikirimkan ke komputer tujuan tanpa melewati  komputer lain. Topologi jaringan inilah yang paling banyak digunakan sekarang karena kelebihannya lebih banyak.


4.        Topologi Mesh






Pada topologi ini setiap komputer akan terhubung dengan komputer lain dalam jaringannya menggunakan kabel tunggal, jadi proses pengiriman data akan langsung mencapai komputer tujuan tanpa melalui komputer lain ataupun switch/hub.


5.        Topologi Tree






Topologi jaringan komputer tree merupakan gabungan dari beberapa topologi star yang dihubungkan dengan topologi bus, jadi setiap topologi star akan terhubung ke topologi star lainnya menggunakan topologi bus, biasanya dalam topologi ini terpadat beberapa tingkatan jaringan, dan jaringan yang berada pada tingkat yang lebih tinggi dapat mengontrol jaringan yang berada pada tingakat yang lebih rendah.



















Sumber:


1 komentar: